Plurk

Rabu, 07 November 2012

Kekasih itu


Kekasih itu menuntut, bukan jadi apa yang dimau oleh salah satu, tapi jadi harusnya memang seperti itu.
Kekasih itu saling menerima segala, tapi tak membiarkan jika dalam semua ada yang tak baik dirasa.
Kekasih itu cermin. Sederhanya, jika yang dilakukan olehnya membuatmu tak suka, seperti itu juga saat olehmu itu dilakukan dia merasa.
Kekasih itu cemburu, tak hanya sebab takut kehilangan. Juga karena jika bisa, bukan oleh orang lain sebab dari senyummu lebih banyak ada.
Kekasih itu membatasi dari apa yang biasa dilakukan saat masih sendiri. Bukan karena diminta, tapi kesadaran telah berdua.
Justru melarang, yang harusnya dilakukan seseorang pada kekasihnya adalah benar. Jangan mengatasnamakan kebebasan akhirnya itu kau langgar.
Jika aku sebagai kekasih ternyata menghambatmu, tanyakan pada diri sendiri. Kau atau aku yang salah bertingkah dalam menuju sesuatu.

Bagaimana Jika Nanti


Bagaimana jika nanti, kau atau aku tak lagi saling menunggu kabar, membiarkan debar sebab cemas menghilang dalam ketidakpedulian?
Bagaimana jika nanti, kau atau aku yang tak lagi mau menunggu saat salah satu terlambat datang setelah pergi berjanji akan kembali?
Bagaimana jika nanti, kau atau aku berpaling pada yang dulu begitu dianggap tak penting?
Bagaimana jika nanti, kau atau aku mendekat pada keinginan tak lagi ingin dekat agar dengan entah siapa yang jauh bisa makin erat?
Bagaimana jika nanti, kau atau aku yang memutuskan berhenti setelah apa yang selama ini oleh masing-masing kita berusaha terus dijalani?
Bagaimana jika nanti, kau atau aku sampai pada titik menyakini bahwa berpisah adalah yang tepat diantara pilihan lain untuk melanjutkan?
Bagaimana jika nanti, saat cinta benar beralih dari hati, kau atau aku yang akan memperjuangkannya sekali lagi?